The Fall memang di produksi tahun 2006, dan ternyata baru disiarkan [ceilee..disiarkan dunia dalam berita banget] di bioskop dan itupun terbatas kebanyakan di tahun 2008 ini di berbagai negara, dan lebih banyak masuk ke festival-festival. Di Indonesia pun baru tahun 2008 ini, dan itupun pertama kali masuk di screamfestindo, setelah itu baru beredar di jaringan bisokop Blitzmegaplex.
Karya Tarsem sebelumnya adalah "The Cell" dengan J.Lo [walaupun saya belum melihatnya, hanya sekedar melihat potongan-potongannya di youtube] terbilang cukup unik, menarik, mungkin boleh saya katakan artistik [dengan sentuhan dark/gloomy/gothic]. Keindahan itupun sepertinya di bawa dalam The Fall. Artistik yang dibuat sedemikian rupa [saya sangat menyukai hal-hal seperti ini, walaupun saya orang yang cukup awam dengan hal-hal artistik, tapi paling tidak saya punya selera...hehehe], dan cerita yang asik membuat saya cukup puas, walaupun tidak memenuhi ekspektasi saya [karena mendengar dan membaca omongan-omongan orang tentang film ini, membuat saya mempunya ekspektasi yang cukup tinggi]. Film The Curse of Golden Flower dan Hero yang sangat memanjakan mata mungkin sama dengan The Fall yang sepertinya dari segi keindahan sangat mempesona.


Ceritanya sendiri merupakan imajinasi dari seorang bocah perempuan kecil [Alexandria] yang sedang dirawat di rumah sakit karena patah tangan. Imajinasi dari sebuah cerita yang diceritakan oleh Roy, seorang stuntman yang sedang dirawat karena mengalami kecelakaan. Roy menceritakan cerita khayalan dadakan itupun sebenarnya hanya untuk memanfaatkan sang bocah untuk mencuri obat di rumah sakit.
Akhirnya bergulirlah cerita mengenai 5 mythical heroes, yang berkelana ke berbagai tempat-tempat indah di dunia untuk mencari seorang Gubernur Odious untuk membalas dendam karena alasannya masing-masing. Dalam perkelanaan itulah kelima ksatria itu mampir ke Ubud, Bali dengan penari kecak-nya. Perjalanan inipun tak luput dari sedikit sentuhan percintaan dengan masuknya sang tunangan Gubernur. Hingga akhirnya berakhir disebuah istana sang gubernur yang dikelilingi oleh kota berwarna biru.
Film ini pun kemudian berbolak balik ke cerita imajinasi dan dunia nyata Roy dan Alexandria, seiring dengan percobaan bunuh diri Roy dengan morphine [obat yang dimaksudkan oleh Roy untuk dicuri oleh Alexandria]. Ada yang kontras dan menjadi pembeda antara cerita mengenai dunia nyata dan imainasi-nya. cerita tentang imajinasi-nya terlihat sangat anak-anak, dan kadang-kadan penyelesainnya pun terlihat cukup simpel sesuai dengan imajinasi sang alexandria, berbeda dengan cerita dalam dunia nyata antara alexandria dan Roy yang terlhat cukup realistis.
Banyak hal-hal yang membuat saya tersenyum mengani cerita kelima ksatria itu, entah itu ternyata semua pemeran dalam cerita itu adalah para penghuni rumah sakit, maupun ternyata mantra yan diucapkan oleh alexandria merupakan diambil dari "a googly film production" yang memproduksi film ini. Mantranya pun cukup simpel "googly...googly...go away" [kalau tidak salah ya...hehehe..]
Akhirnya ceritapun diakhiri sesuai dengan permintaan sang bocah perempuan, karena Roy kehabisan akal dalam penyelesainnya, dan berencana membunuh semua karakter dalam cerita tersebut.
Cerita yang tidak berat tapi memanjakan secara visual, dan akhirnya meninggalkan sebuah senyuman simpul. Bagaimana ya bila ceritanya dibikin menjadi lebih berat dan lebih gelap, bisa jadi lebih menarik mungkin. Kita tunggu saja karya Tarsem berikutnya, soalnya katanya Tarsem akan membikin prekuel dari "300"....hemmm...menarik.