Secara jujur saya belum menonton Kala, salah satu karya Joko Anwar yang lain.sebelumnya saya sudah menonton Fiksi, yang boleh dibilang karya Joko yang lain lagi. Pintu Terlarang memang berbeda dengan film-film Indonesia kebanyakan saat ini, kesan saya pribadi film ini seperti melayang di awang-awang, saya merasa cukup ganjil apabila saya tarik ke dunia nyata, jadi saya hanya akan menikmatinya dan memang kebanyakan film bukannya cukup ganjil jika dihubungkan ke dunia nyata bukan? [hehehehe seperti jagoan yang tidak mati-mati walopun musuhnya ada ribuan].
terkisahlah seorang perupa sukses bernama Gambir, yang suka membuat patung? [atau sejenisnya..] mengenai wanita yang sedang mengandung, kehidupannya cukup sukses dan mempunyai istri yang cantik pula. Kemudian kehidupannya pun bergulir dan menjadi aneh, sejak pengguguran cabang bayi dari istrinya dia mulai suka memasukkan janin manusia kedalam perut dari patung-patung karyanya, dan juga selalu dibayangi petunjuk-petunjuk dari seorang anak kecil yang selalu meminta tolong kepadanya, hingga akhirnya petunjuk itu mengarah pada suatu klub aneh yang suka menonton saluran televisi yang menyediakan gambar-gambar ganjil, seperti penyiksaan anak kecil dan kejahatan seksual. Hingga akhirnya dia mengetahui kebusukan teman-teman dan istrinya. Balas dendam pun menjadi jalannya, dan teka teki mengenai pintu terlarang di dalam rumahnya yang dilarang oleh istrinya untuk memasukinya pun akhirnya terungkap. Apakah isi di dalam pintu terlarang berwarna merah itu?? tentunya akan menjadi sesuatu yang sedikit mengejutkan.

Sebenarnya saya tidak begitu suka dengan akting Fachry Albar, dan Marsha pun tidak begitu istimewa. Saya agak merasa kurang sreg ketika Gambir harus berdialog secara drama. Ceritanya yang unik dan berbeda [seperti halnya Fiksi. yang cukup berbeda dengan film Indonesia kebanyakan] sebenarnay menarik walaupun dengan catatan lepaskan semua akal sehat terbanglah ke awang-awang dan berpikirlah semua hal bisa terjadi di dunia ini, dari hal-hal yang sangat aneh sampai hal-hal yang istimewa. Film ini sendiri diangkat dari novel karya Sekar Ayu Asmara, dan menurut pendapat saya Sekar Ayu Asmara memang selalu menyajikan sesuatu yang berbeda yang kadang membikin kita mengrenyitkan dahi, lihat saja Pesan Dari Surga dan Belahan Jiwa. Tetapi semua itu jadi memperkaya hasil karya para sineas di Indonesia.
Oiya ketika nonton film ini sekilas terbersit dalam pikiran saya dengan film A Clockwork Orange, entah kenapa?, terutama ketika gambir melakukan balas dendam. Kemudian saya juga agak terganggu dengan kesan retro yang ingin dibangun dengan memasang poster-poster retro, dan sudut kamera dalam menshot poster-poster itu pun terbilang monoton jadi terkesan terlalu dibikin-bikin cukup terasa. Dan juga [menurut pendapat saya loh sebagai orang awam], opening yang dibikin kartun tidak menyatu dengan gambar-gambar dalam filmnya, jadi kalo dirasa-rasa kok ya kurang sreg ya. Kemudian mengenai pintu terlarangnya kan digembok dari tempat Gambir mendobrak, selama di shot adegan Gambir tidak ada adegan membongkar Gembok itu, tapi hanya menjebol pintu dengan kampak, dan begitu pintu itu berlubang tangan dia masuk membuka grendel pintu bagian dalam kemudian pintu itu terbuka...lahh gemboknya kemana?. Hahahaha itu hanya seklumit gundah gulana setelah menontonnya, bagi yang hobi film-film nyleneh [Cult Movie] silahkeun ditonton tapi kalau tidak sebaiknya jangan karena disini ada adegan menggorok leher dan adegan-adegan kekerasan lainnya.