<< January 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31





Cakra Ibrahim
- This is my neverland, and this is my playground -



me, fircrut cecunguk,wincrut takacrut










Free Web Site Counters
Free Web Site Counters




My authentic japanese name is 石丸 Ishimaru (round stone) 溌春 Hatsuharu (vigorous spring time).
Take your real japanese name generator! today!
Created with Rum and Monkey's Name Generator Generator.





If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Jan 22, 2009
FILM : Perempuan Berkalung Sorban

     Sebelumnya saya sedikit bingung, sebenarnya ini masuk kategori film keluarga atau film dewasa, melihat yang menonton sepertinya kok film keluarga tetapi melihat isi filmnya ternyata sangat dewasa. Kemudian kesan yang saya tangkap kok ya cukup negatif tentang film ini, terutama tentang isinya.

Kebingungan saya akhirnya terjawab sudah, setelah tadi pagi secara tidak sengaja melihat perbincangan sang sutradara hanung, dan revalina pada salah satu acara perbincangan pagi di sebuah stasiun televisi swasta. Ternyata memang benar bahwa film ini merupakan film untuk konsumsi dewasa, dewasa bukan dalam arti usia tetapi juga dalam hal pemikiran , nahh kalau begini tentu saja saya sangat menyayangkan pihak bioskop [dalam hal ini, waktu itu saya menonton di bioskop margo city, Depok] yang tidak mau menyeleksi penonton, karena seharusnya mereka tahu bahwa film ini dikategorikan film dewasa.

     Apa yang disampaikan mas Hanung terasa lebih jelas dari filmnya [cukup disayangkan, soalnya menurut saya apa yang mau disampaikan sebenarnya sangat bagus, tetapi filmnya sendiri menurut saya pribadi bisa diartikan ke sesuatu yang sebaliknya]. Apa yang mau disampaikan oleh mas Hanung adalah tentang kebebasan/kesetaraan perempuan, yang disimbolkan dengan sorban [dalam judul Perempuan Berkalung Sorban], karena sorban itu identik dengan pria. Kebebasan/kesetaraan perempuan ini terkekang bukan dari agama, tapi dari kultur, dalam hal ini banyak orang-orang yang mengatasnamakan agama dan berada dibalik agama untuk mempertahankan kultur. Tentu kita pernah mendengar istilah "konco wingking [teman di belakang]" diperuntukkan bagi wanita, istilah ini tidak berasal dari agama [dalam hal ini Islam], tetapi dari kultur yang berkembang. Untuk mengakomodasi hal-hal tersebut diatas seting yang diambil adalah pesantren di masa lalu dan di daerah, dimana biasanya kultur masih dipegang dengan erat.

     Setelah menonton film ini yang saya pribadi dapatkan justru malah sebaliknya, saya melihat Annisa [Revalina S. temat] terkungkung karena pesantren, terkungkung karena bapaknya, sang Kyai pemimpin pesantren, hingga dia berontak menginginkan kebebasan dan kesetaraan seperti para lelaki. Mungkin yang harus dikuatkan adalah unsur kultur budaya masyarakatnya yang lepas dari embel-embel agama yang dalam hal ini mengekang kebebasan dan kesetaraan perempuan. Soalnya disini pelaksana dari kultur itu sendiri adalah para penghuni pesantren sehingga sedikit bias apa yang seharusnya mau disampaikan oleh Perempuan Berkalung Sorban. Dan pelurusan mengenai isu ini dari segi agama juga kurang, misalkan ditampilkannya seorang tokoh kyai lain yang kemudian meluruskan dan memberikan pencerahan, mungkin akan menjadi sesuatu yang lebih jernih dari film ini. Karena di ending film ini pun akhirnya sang Annisa sendirilah dengan perjuangannya mendapatkan sedikit kebebasan [tetapi bukan pencerahan bagi kaum tua-nya].

     Dari segi film, Perempuan Berkalung Sorban, menurut saya pribadi bagus, lebih bagus dari ayat-ayat cinta. Tapi dari segi cerita yang menurut saya cukup sensitif dirasa kurang terutama dari segi pencerahan dan penguatan seting atau aroma [nuansa, atau apalah..] mengenai kultur, budaya lokal yang kuat dan mengakar mengenai perempuan [diluar embel-embel agama]. Dari apa yang dikatakan mas Hanung dalam perbincangan tersebut sebenarnya film ini bisa sangat kuat dan bagus sekali, tetapi ketika saya belum mendengarkan perbincangan tersebut saya agak kurang sreg dengan film ini...

     Jelas film ini sangat segmented, dan tentunya semoga mas Hanung bisa terus membuat film-film yang semakin berkualitas, sukses secara komersial maupun kualitas. Mas Hanung coba bikin film Islami untuk keluarga seperti film Iran Bacheha Ye-aseman atau lebih dikenal dengan Children of Heaven karya Majid Majidi yang sangat bagus dan sarat muatan bagusnya. Saya yakin bisa....hidup perfilman Indonesia...!!!
    

    

Posted at 01:19 pm by cakrascheilim
Comment (1)  

Jan 19, 2009
FILM : Revalina oh Revalina

     Perempuan Berkalung Sorban, ketika pertama kali melihat poster yang segede gaban, langsung keluar kata indah penuh bunga dan berbau wangi " Ya ampuuunn, Revalina cantik banget pake jilbab, sumpah dia jauuuuuuh lebih cakep pake jilbab, mana posternya juga keren" rasanya pengin langsung di foto berdiri di sebelah posternya....hehehehe tapi malu...soalnya rame banyak orang, hahahahaha...[maklum saya ini pria pemalu]. Numpang Nampang.

     Ok, balik lagi ke Perempuan Berkalung Sorban, ada satu hal yang membuat saya bingung, maaf kalau saya kurang teliti ketika menonton atau salah ketika melihat posternya mengenai rating film ini. Film ini boleh dibilang berbau Islami, dengan label ini tentu kebanyakan orang akan menganggap film ini baik-baik saja, maka dibawalah satu keluarga dari nenek-nenek sampai bayi untuk menontonnya, tetapi dalam film ini saya berpendapat cukup banyak adegan yang tidak pantas untuk dilihat bagi seluruh keluarga, terutama mengenai kekerasan dan hubungan suami istri, alhasil ada beberapa orang [mungkin masih satu keluarga] yang kemudian meninggalkan gedung bisokop, dan ditengah-tengah film pun ada seorang anak yang berteriak cukup keras "mah...cowoknya mandul mah" kemudian orang-orang pun gerrrr...mendengarnya. Saya ikut tertawa tetapi saya jadi prihatin dan bingung, harusnya film ini disosialisasikan bahwa untuk konsumsi dewasa, dan saya yakin film ini menjadi lebih segmented dari yang sebelumnya saya pikirkan [benar-benar belum ada yah film yang Islami yang layak ditonton oleh seluruh keluarga...huhh...].

     Terlepas dari kebingungan saya, dan saya pun tidak mau berkomentar mengenai isi film tersebut, tapi jujur saya sangat menyukai bagaimana penceritaan film ini, dan saya sangat terpesona dengan Revalina [selain kecantikannya] dan Widyawati dalam film ini. Oka Antara [Khudori] pun bermain bagus sebagai suami Revalina [Annisa]. Dan saya menganggap film ini lebih bagus dari Ayat-Ayat Cinta, diluar dari isi ceritanya. Bagi yang mau menonton berpikirlah terbuka, jangan berpikir sempit, jangan cepat mengambil kesimpulan, dan tentunya berhati bersih [hahahahaha...] dan satu lagi, jangan bawa orang tua kita yang sudah sepuh [karena mungkin mereka tidak berkenan dengan adegan-adegan kekerasan dan hal-hal yang mengarah ke seksual] dan juga anak-anak [karena saya khawatir tiba-tiba ada teriakan-teriakan aneh dari anak kita].



Posted at 08:03 am by cakrascheilim
Make a comment  

FILM: Jamal, Salim, dan latika

     Ini adalah film tentang india, tetapi bukan film India hahaha...karena merujuk dari sang sutradara yaitu Danny Boyle, yang tentu kita sudah mengenal di Millions, 28 days later, The Beach, dan Trainspotting. Jamal, Salim, dan latika merupakan tiga tokoh sentral dalam film ini. Mereka merupakan yatim piatu akibat kerusuhan SARA di India. Boleh dibilang cerita kehidupan ketiganya merupakan inti ceritanya, sedangkan Who Wants to be Milionaire menjadikan bingkainya. Ya, Jamal adik Salim yang hidup sebagai anak jalanan semasa kecil dan tentunya hidup di lingkungan kumuh bisa memenangkan kuis WWTBM, kenapa? karena seluruh pertanyaannya bersentuhan dengan pengalaman hidupnya yang suram.

     Jalan cerita pun berbolak-balik maju mundur, masa sekarang, masa ikutan kuis, dan tiap pertanyaan kemudian ceritanya mundur kebelakang yang berhubungan dengan kehidupan jamal dan pertanyaan dalam kuis. Kehidupan jalanan yang mengenaskan dan brutal [mengingatkan saya akan Daun di Atas Bantal dan City of God], serta cerita pencarian Jamal, Latika, dan Salim yang sempat terpisah, serta setting di kantor polisi penginterogasian Jamal karena dituduh berbuat curang dalam kuis merupakan sesuatu hal yang menarik, kengerian kehidupan jalanan pun sempat menghanyutkan saya hingga akhirnya diakhiri dengan sebuah happy ending [sepertinya].

     Kemenangan Slumdog Milionare dalam ajang Golden Globe apakah cukup mengejutkan? sampai sejauh ini saya tidak punya pendapat apa-apa karena saya pun belum melihat film-film yang berpotensi menjadi pesaing berat dalam ajang Oscar, dan apakah mungkin Academy Awards akan menelurkan film berbau Asia ini menjadi jawaranya? [hemmm...saya jadi teringat Crouching Tiger Hidden Dragon di tahun 2000]. Tapi saya sendiri tidak begitu menggebu-gebu untuk menyukai film ini walaupun bagus hehehehe...



Posted at 07:19 am by cakrascheilim
Make a comment  

Dec 30, 2008
FILM : Australia



     Australia, dengan Baz Luhrmann sebenarnya menjanjikan suatu cerita yang menarik, apalagi didukung oleh mahadewi Nicole Kidman dan tentu saja sang jagoan Hugh Jackman. Bahkan mungkin sebelumnya digadang-gadang mampu bersaing di Golden Globe maupun Oscar. Tentu itu pun tidak salah mengingat saya pun masih terbuai dengan moulin rouge!, dan tentunya berharap bisa bersaing di kancah yang sama [ini sebelum saya menonton filmnya].

     Ceritanya sendiri mengenai Lady Ashley yang tinggal di Inggris yang menyusul sang suami, pengelola peternakan sapi. Setting cerita berada di perang dunia kedua. Ada mengenai pengkhianatan, persaingan bisnis, rasis, anak, dan tentu saja percintaan syahdu. Film sepanjang sekitar 3 jam pun tidak membosankan, mudah dinikmati dan tergolong sukses menjadi sebuah film hiburan yang menyegarkan. Cerita yang dibuka dengan perjalanan Lady Ashley ke peternakan, perkenalan dengan anak campuran aborigin kulit putih atau disebut dengan anak Creamy [bernama Nullah] yang ceritanya sendiri berada pada sudut pandang sang anak creamy tersebut, persaingan bisnis peternakan, dan kemudian perjuangan menyelamatkan sang anak di saat terjadinya perang dan tentu saja percintaan lady Ashley dan The Drover [Hugh Jackman].

     Setiap film pasti mempunyai momen-momen yang menarik, seperti permainan baseball [kalau tidak salah] keluarga Cullen dalam Twilight [ini menurut saya], di Australia pun saya mempunyai momen favorit, yaitu ketika Lady Ashley dan kawan-kawan harus menggiring sapi-sapi yang diganggu oleh suruhan pesaing bisnisnya, yang akhirnya memakan korban nyawa. Momen ini tergolong seru dan dramatis.

     Percintaan Moulin Rouge! menurut saya lebih menarik daripada Australia, apalagi dengan lagu-lagunya yang sangat menarik, kelebihan Australia adalah setting dan berbagai visual effect yang dipakai, selebihnya hanya sebatas sangat menghibur [terbukti dengan 3 jam tanpa merasa bosan, sangat jauh berbeda dengan the day the earth stood still yang sangat membosankan]. tetapi apakah australia bisa berbicara dalam ajang Golden Globe maupun Oscar? terbukti di Golden Globe bahkan tidak disebut sekalipun dan entah dengan oscar, dan saya pun belum tahu soalnya saya belum nonton Milk, revolutionary Road, The Curious Case of Benjamin Button, Gran Torino, Slumdog Millionare, The Reader, Doubt.



Posted at 08:53 am by cakrascheilim
Make a comment  

Dec 2, 2008
FILM : Ellen Page



        Setelah sebelumnya bermain di Juno dan An American Crime yang cukup mengesankan sekarang kembali lagi-lagi saya melihat Smart People dan Hard Candy [setelah sekian lama saya sangat menginginkan menonton hard candy ini]. Bukannya saya menjadi seorang big fans of Ellen Page tapi saya sering merasa pensaran dengan aktingnya, setelah sebelumnya sangat terpesona dengan Kitty Pride dalam trilogy X-Men.

        Dalam Juno dan An American Crime Page bermain menjadi seseorang yang cukup berbeda, sedangkan dalam Smart People dan hard Candy sepertinya saya melihat sama-sama menjadi seorang yang pandai [terlalu universal yah], pandai dalam hal apa? tentu ini yang berbeda.

Smart People [2008]

        Terdapatlah suatu keluarga yang boleh dikatakan kurang ideal dalam hal tertentu, seorang ayah adalah profesor dan kedua anaknya adalah anak-anak yang berprestasi secara akademis, tapi secara kehidupan sosial mereka sepertinya enol besar. Komunikasi pun hanya sebatas kesuksesan akademis tersebut dan sangat jarang menyentuh masalah kemanusiaan lainnya, bahkan sampai saudara angkat sang bapak [kebetulan sang istri/ibu telah meninggal] menyebutnya keluarga robot.

        Sang paman sendiri merupakan seorang yang nyentrik, apa adanya, dan sering merepotkan secara ekonomi terhadap keluarga sang profesor. Kepindahan dirinya itulah yang mulai sedikit demi sedikit merubah keluarga tersebut menjadi keluarga yang lebih hidup, sang profesor yang memulai cinta baru lagi, dan perubahan sang anak perempuan cerdas [Ellen Page] menjadi sosok anak-anak pada umumnya.

        Ellen page disini bukan merupakan tokoh utama, melainkan Dennis Quaid sang profesor. Ellem Page disini bermain cukup mirip seperti waktu berperan sebagai Juno dan Hard Candy, seorang anak perempuan yang terlihat lebih dewasa dari umurnya secara pemikiran. Filmnya sendiri di awal-awal cukup membosankan, hingga akhirnya perubahan-perubahan saat kedatangan sang paman [Thomas haden Chruch] yang cukup menarik, hingga berakhir dengan sesuatu yang menyenangkan [happy ending tipe lahh...]. Disini Page tidak begitu menonjol, dan takutnya dia selalu terjebak dalam peran-peran yang hampir sama [kecuali di An American Crime].

Hard Candy [2005]

        Ellen Page bersama Patrick Wilson [Running With Scissors, Little Children] benar-benar mendominasi seluruh film, 3 tokoh yang lain praktis hanya numpang lewat beberapa detik saja. Ceritanya sendiri cukup menarik, seseorang yang dicurigai seorang "pedophile", Jeff [Patrick], sedang mencari mangsa seorang gadis remaja [Page], tapi kemudian ceritanyapun berbalik, ternyata sang gadis remaja [Hayley] yang sedang memburu Jeff. Lagi-lagi page berperan menjadi seorang gadis remaja tapi mempunyai pemikiran yang sudah dewasa dan mempunya kecerdikan luar biasa dalam menjebak dan mempermainkan sang "pedophile".

        Seting sebagian besar di rumah Jeff, dan disitulah terjadinya penjebakan dan penaklukan Hayley terhadap Jeff, usaha kerasnya Hayley dalam mencari bukti-bukti bahwa Jeff seorang "pedophile". Bisa jadi Hayley disini seorang yang cerdik tapi bisa jadi dia juga seorang psikopat, bayangkan saja seorang gadis remaja yang bisa melakukan ancaman-ancaman yang bisa membuat kita miris, dan benar-benar bisa menaklukan Jeff secara mentah-mentah. Endingnya dibuat dengan cukup mengejutkan, yang akhirnya saya hanya bisa menyimpulkan bahwa ini film psikopat dengan latarbelakang cerita yang sepertinya baik-baik [hahahaha...menjebak seorang pedophile].


Smart People                                        Hard Candy

Ellen Page

        Tapi secara keseluruhan Ellen Page bagi saya tetap menjadi sesuatu yang menarik, dan tetap dinantikan di tahun 2009 seperti Peacock dan Whip It!, tapi saya juga penasaran dengan Mouth to Mouth [2005].



Posted at 10:29 am by cakrascheilim
Make a comment  

Nov 27, 2008
FILM : Let The Right One In

      Lat den ratte komma in, mungkin begitulah judul asli dalam bahasa swedia dari film ini. Bercerita mengenai anak 12 tahun yang bernama Oskar yang jatuh cinta dengan seorang vampir [yang sebelumnya tidak diketahui olehnya] berfisik seorang anak-anak bernama Eli. Oskar adalah orang yang lemah, sering diganggu oleh teman-temannya dan nyaris diceritakan tidak mempunyai teman. Hingga suatu saat ada seseorang yang pindah dan tinggak di kamar flat sebelah rumahnya, seorang bapak tua dan anak perempuan yang sepertinya seumuran dengannya. Akhirnya terjadilah interaksi antara mereka berdua.

    Oskar sangat ingin balas dendam terhadap teman-temannya tapi dia tidak bisa apa-apa, sementara Eli harus berjuang mencari mangsa untuk kelangsungan hidupnya. Pada akhirnya secara tidak langsung maupun secara tidak sengaja mereka berdua saling membantu.

    Jangan harap film ini akan menampilkan sesuatu yang membikin jantung berdegub kencang, dan ketegangan sepanjang film layaknya 30 days of night maupun film-film vampir ala hollywood yang lain [entah dengan Twilight, saya belum menontonnya, yang sepertinya cerita garis besarnya hampir mirip]. Drama justru sangat kental disini, dan cara bercerita dan gambar yang disampaikan menurut saya ciri khas eropa, lambat dan tenang [lihat saja dengan funny games dan bandingan dengan genre serupa seperti saw, american psycho, vacancy dan banyak lagi]. Ditambah lagi dengan tokoh sentralnya yang masih anak-anak sehingga memberikan nuansa yang berbeda dan permasalahannya pun anak-anak tapi tetap horor karena sang vampir. Jangan harap seperti the orphanage atau the others, ini adalah film vampir tetapi tidak akan membuat kita ketakutan, bahkan kita menangkap betapa repotnya sang vampir untuk mencari makan. Di film ini juga diceritakan bahwa vampir akan mengalami celaka bila dia tidak diijinkan masuk ke suatu tempat oleh sang pemiliknya [jujur, baru kali ini tahu].

    Kalau boleh memuji, pasti untuk Lina leandersson yang bermain sebagai Eli sang vampir, dia bermain sangat hebat sangat dingin dan benar-benar vampir. Mungkin bagi saya LTROI adalah film vampir terbaik yang pernah saya lihat. Walaupun yang menonton hanya 6 orang waktu itu di blitzmegaplex tetapi ternyata filmnya patut diacungi jempol, walaupun tentu saja ada beberapa hal yang masih menjadi pertanyaan bagi saya tentang film ini seperti kemanakah Oskar dan Eli pergi di akhir film, apakah memang sangat sepi kondisi kota di swedia?, apakah kematian orang akibat vampir tidak menghebohkan kota kecil tersebut? tapi selebihnya interaksi Oskar dan Eli sangat menarik. Film ini wajar direkomendasikan untuk ditonton, bagaimana dengan Twilight?


Posted at 10:17 am by cakrascheilim
Comments (2)  

POSTER : Dibalik Kaca




Hemm rombongan orang-orang [2 cowok, 2 cewek] yang hobi dibalik kaca.



hahaha...ini lagi ikut-ikutan...sapa ya...? penasaran deh...



Posted at 07:34 am by cakrascheilim
Comment (1)  

Oct 31, 2008
MUSIC : Fascinating Music and Music Video at the moment

    Belum lama ini secara tidak sengaja saya menemukan sebuah lagu kolaborasi yang sangat memikat dan sebuah musik video yang sangat indah dan sangat sangat menarik. Berawal dari petualangan di dunia maya yang sampai akhirnya saya terus merasa kagum dengan kedua karya tersebut.

    Kolaborasi Nick Cave dan Kyle Minogue benar-benar sangat menarik, dengan sebuah lagu romantis bernuansa gelap memberikan suguhan yang sangat berbeda. Musiknya sangat pas di telinga saya, yahh karena semua ini memang berujung di selera masing-masing. Coba simak kolaborasi mereka di youtube, kita seperti merasa terbuai dengan nuansa percintaan yang kemudian diputarbalikkan di bagian akhirnya.


Where the Wild Roses Grow

   Lagu ini masuk dalam album Nick cave and the Bad Seeds yang berjudul Murder Ballads dan dikeluarkan di tahun 1996.
   
    Berbeda dengan yang satu ini, lagu "Glósóli" [ˈglou:ˌsoulɪ] (Icelandic for "Glowing Sole") oleh Sigur Rós, yang keluar dari album Takk.. . Mungkin bagi yang awam akan merasa aneh dengan hanya mendengar lagunya saja [dan saya pun belum begitu familiar dengan lagu-lagunya], tapi akan jauh berbeda ketika kita melihat musik video-nya. "Glósóli" sendiri menurut wikipedia bisa diartikan juga sebagai "glowing sun" atau "let the sun glow". Musik video-nya sendiri hanya diisi oleh gambar anak-anak yang berkumpul di suatu dataran tinggi, berbuat dan bertingkah sepertinya penuh dengan simbol-simbol. Hanya satu yang harus diingat nikmatilah hingga detik-detik terakhir, saya yang menikmati sejak awal hanya bisa berdecak kagum di endingnya dan hanya berucap "sangat indah" [tapi itu semua kembali ke selera masing-masing].


"Glósóli"

    Sangat menarik bukan? yang jelas saya sedang terbuai dengan kedua musik tersebut.

   

Posted at 03:58 pm by cakrascheilim
Make a comment  

Oct 17, 2008
POSTER : First Poster for An Unusual Sagu Girl's Adventure





Posted at 03:22 pm by cakrascheilim
Make a comment  

Sep 26, 2008
FILM : Laskar Pelangi

  

Ikal (depan), Lintang (baju hijau), Mahar (baju merah)

   Laskar Pelangi, film garapan Riri Riza yang berdasarkan novel dengan judul yang sama akhirnya beredar juga. Semalam menyempatkan diri untuk nonton, walaupun harus rela pulang tengah malam karena keluar kantor baru bisa sekitar jam setengah delapan malam.

   Film yang digarap dengan antusias oleh para sineas kita ini, karena memang kalau boleh saya katakan spirit yang dibawa sangat bagus dan bisa menyadarkan kita akan banyak hal. Sebenarnya saya berharap ketika menonton film ini saya maunya sih belum tau sama sekali mengenai bukunya, tapi sayangnya bukunya telah menjadi big hits dimana-mana dan kebanyakan orang sudah mengetahui kehebatan ceritanya. Sayang sekali, ini menjadikan saya tidak bisa menilai film ini secara obyektif. Sepertinya sebelum gambar itu muncul dilayar didalam kepala saya sudah muncul scene-scene berikutnya, sehingga tidak memunculkan kehebatan sebuah film drama dalam diri saya, itu pendapat saya loh...

   Kalau boleh bilang dengan kondisi saya sudah terpapar oleh berbagai macam kesuksesan dan berbagai pembahasan mengenai bukunya, film ini adalah sebuah film yang sangat pas dalam setiap porsinya, tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang. Ceritanya sendiri sepertinya sudah terbayang-bayangi oleh kehebohan bukunya sendiri, sehingga tidak menjadi sebuah kejutan-kejutan menarik, yahh mungkin ini sebuah resiko bagi film yang diangkat dari sebuah buku, yaitu memvisualisasikan sebuah cerita dari sebuah buku.

   Tapi terlepas dari semua itu film ini layak ditonton oleh kita semua, apalagi bagi para manusia yang kurang suka dengan membaca. Saya yakin film ini sangat memberikan dampak positif bagi diri kita. Lebih menyadarkan kita akan banyak hal, lebih bersyukur kepada yang di Atas atas semua karunia yang telah Dia berikan.

the scene

   Dari tetralogi bukunya sendiri saya baru membaca 2, yaitu laskar pelangi dan sang pemimpi, di masing-masing buku saya mempunya scene favorite, dan ternyata Riri riza memvisualisasikannya dengan mempesona yaitu ketika Lintang berpamitan kepada semua teman-temannya dan sang guru karena dia tidak bisa bersekolah lagi  pada buku laskar pelangi, dan ketika Ikal dan bapaknya menjemput saudaranya yang sebatang kara di buku sang pemimpi.

the character

   Dari sekian tokoh yang ada yang mencuri perhatian saya adalah tokoh Lintang (Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara) , Mahar (Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam), dan Bu Muslimah. Mereka diperankan dengan sangat apik dan Cut Mini, yess really stunningly beautiful. 3 tokoh ini sangat hidup ditambah dengan penampilan fisik mereka yang sangat passssss, sepertinya seperti itulah gambaran seorang Lintang dan Mahar. dan bu Mus sendiri, siapa sih yang meragukan seorang Cut Mini?.

Kehebatan bukunya yang kemudian diterjemahkan dalam film ini perlu kita sambut dengan antusias, paling tidak menambah koleksi film Indonesia yang mendidik. Kehebatan sambutan bukunya semoga diikuti dengan filmnya. Saya hanya penasaran, apa pendapat orang yang sama sekali belum mengetahui tentang bukunya, agar film ini dinilai secara obyektif, hehehehe...sama ada sedikit pertanyaan, kenapa sih ada Tora Sudiro???ha3x...
  


Posted at 10:58 am by cakrascheilim
Make a comment  

Next Page