|
Sebelumnya saya sedikit bingung, sebenarnya ini masuk kategori film keluarga atau film dewasa, melihat yang menonton sepertinya kok film keluarga tetapi melihat isi filmnya ternyata sangat dewasa. Kemudian kesan yang saya tangkap kok ya cukup negatif tentang film ini, terutama tentang isinya.
Kebingungan saya akhirnya terjawab sudah, setelah tadi pagi secara tidak sengaja melihat perbincangan sang sutradara hanung, dan revalina pada salah satu acara perbincangan pagi di sebuah stasiun televisi swasta. Ternyata memang benar bahwa film ini merupakan film untuk konsumsi dewasa, dewasa bukan dalam arti usia tetapi juga dalam hal pemikiran , nahh kalau begini tentu saja saya sangat menyayangkan pihak bioskop [dalam hal ini, waktu itu saya menonton di bioskop margo city, Depok] yang tidak mau menyeleksi penonton, karena seharusnya mereka tahu bahwa film ini dikategorikan film dewasa. Apa yang disampaikan mas Hanung terasa lebih jelas dari filmnya [cukup disayangkan, soalnya menurut saya apa yang mau disampaikan sebenarnya sangat bagus, tetapi filmnya sendiri menurut saya pribadi bisa diartikan ke sesuatu yang sebaliknya]. Apa yang mau disampaikan oleh mas Hanung adalah tentang kebebasan/kesetaraan perempuan, yang disimbolkan dengan sorban [dalam judul Perempuan Berkalung Sorban], karena sorban itu identik dengan pria. Kebebasan/kesetaraan perempuan ini terkekang bukan dari agama, tapi dari kultur, dalam hal ini banyak orang-orang yang mengatasnamakan agama dan berada dibalik agama untuk mempertahankan kultur. Tentu kita pernah mendengar istilah "konco wingking [teman di belakang]" diperuntukkan bagi wanita, istilah ini tidak berasal dari agama [dalam hal ini Islam], tetapi dari kultur yang berkembang. Untuk mengakomodasi hal-hal tersebut diatas seting yang diambil adalah pesantren di masa lalu dan di daerah, dimana biasanya kultur masih dipegang dengan erat. Setelah menonton film ini yang saya pribadi dapatkan justru malah sebaliknya, saya melihat Annisa [Revalina S. temat] terkungkung karena pesantren, terkungkung karena bapaknya, sang Kyai pemimpin pesantren, hingga dia berontak menginginkan kebebasan dan kesetaraan seperti para lelaki. Mungkin yang harus dikuatkan adalah unsur kultur budaya masyarakatnya yang lepas dari embel-embel agama yang dalam hal ini mengekang kebebasan dan kesetaraan perempuan. Soalnya disini pelaksana dari kultur itu sendiri adalah para penghuni pesantren sehingga sedikit bias apa yang seharusnya mau disampaikan oleh Perempuan Berkalung Sorban. Dan pelurusan mengenai isu ini dari segi agama juga kurang, misalkan ditampilkannya seorang tokoh kyai lain yang kemudian meluruskan dan memberikan pencerahan, mungkin akan menjadi sesuatu yang lebih jernih dari film ini. Karena di ending film ini pun akhirnya sang Annisa sendirilah dengan perjuangannya mendapatkan sedikit kebebasan [tetapi bukan pencerahan bagi kaum tua-nya]. Dari segi film, Perempuan Berkalung Sorban, menurut saya pribadi bagus, lebih bagus dari ayat-ayat cinta. Tapi dari segi cerita yang menurut saya cukup sensitif dirasa kurang terutama dari segi pencerahan dan penguatan seting atau aroma [nuansa, atau apalah..] mengenai kultur, budaya lokal yang kuat dan mengakar mengenai perempuan [diluar embel-embel agama]. Dari apa yang dikatakan mas Hanung dalam perbincangan tersebut sebenarnya film ini bisa sangat kuat dan bagus sekali, tetapi ketika saya belum mendengarkan perbincangan tersebut saya agak kurang sreg dengan film ini... Jelas film ini sangat segmented, dan tentunya semoga mas Hanung bisa terus membuat film-film yang semakin berkualitas, sukses secara komersial maupun kualitas. Mas Hanung coba bikin film Islami untuk keluarga seperti film Iran Bacheha Ye-aseman atau lebih dikenal dengan Children of Heaven karya Majid Majidi yang sangat bagus dan sarat muatan bagusnya. Saya yakin bisa....hidup perfilman Indonesia...!!! |